Copyright © 2010-2013
Kamis, 03 Agustus 2017

Tiba Tiba Suddenly Konser Again Efek Rumah Kaca

Tiba Tiba Suddenly Konser dari Efek Rumah Kaca tahun lalu sepertinya meninggalkan kesan yang manis bagi banyak orang. Saat publik mengetahui bahwa vokalis Cholil Mahmud saat ini sedang berada di Indonesia, banyak komentar yang masuk di akun media sosial ERK yang meminta kami untuk kembali membuat konser dadakan. Lucu juga kedatangan Cholil sementara waktu ke Indonesia jadi identik dengan konser dadakan. Permintaan pun semakin bertambah saat kami merilis jadwal di bulan Juli dan tidak ada satu pun jadwal yang berada di Jakarta. 

Karena desakan permintaan yang begitu banyak ditambah dengan jadwal ERK sejauh ini yang tidak ada yang di Jakarta, maka saat direktur RURUradio, Oomleo mengajukan ide untuk membuat konser dadakan untuk kedua kalinya, tidak pikir panjang saya mewakili manajemen ERK, langsung mengiyakan. 

Karena jadwal akhir pekan Efek Rumah Kaca sudah penuh maka mau tidak mau konser kembali diadakan di hari kerja seperti tahun lalu. Jaman sekarang penduduk Jakarta juga semakin gemar bersenang-senang hingga larut malam di hari kerja sementara besok pagi kembali beraktivitas. 



Seminggu sebelum hari H, kami baru bergerak mencari sponsor dan tentu saja tidak ada brand yang menyanggupi mengucurkan uang dalam hitungan hari. Akhirnya seperti Tiba Tiba Suddenly Konser tahun lalu, Tiba Tiba Suddenly Konser Again juga diselenggarakan secara mandiri tanpa sponsor atau donatur. 

Untungnya keluarga besar Efek Rumah Kaca dan RURUradio memiliki tim yang sigap dan tangkas yang terbiasa kerja mepet deadline dan mepet uang juga. :D Beberapa persoalan teknis yang akan membuat budget membengkak dengan cepat dipangkas. Begitu juga dengan ide-ide konten yang akan ditampilkan di panggung yang dirasa terlalu membutuhkan usaha yang banyak, juga ditiadakan.

Khusus mengenai konten, sebisa mungkin kami tidak mau mengulang konsep yang sudah digunakan pada Tiba Tiba Suddenly Konser tahun lalu. Dalam mempersiapkan konten juga jalannya tidak selalu mulus yang membuat tegang-tegang di menit-menit akhir. Misalnya Oomleo yang hardisknya tiba-tiba ngadat saat sedang membuat teks karaoke atau saat beberapa orang yang kami minta untuk turut  hadir dan berbicara di atas panggung sampai detik-detik terakhir ternyata membatalkan kesediaannya karena masih terjebak meeting atau ada acara lainnya yang tidak bisa ditinggal. 

Kami semua maklum dengan keadaan tersebut. Karena memang semuanya serba mendadak. Jika publikasi konser tahun lalu dilakukan 24 jam sebelum acara, kali ini publikasi dilakukan H min 2 sebelum acara agar lebih banyak orang lagi yang tidak telat mengetahui info mengenai konser.

Satu hal yang selalu mengundang rasa salut adalah antusiasme dan tertibnya para penonton di Tiba Tiba Suddenly Konser Again. Dua jam sebelum tiket booth dibuka, calon penonton sudah mulai mengantri. Dalam waktu satu jam setelah penjualan tiket resmi dibuka, 1000 tiket langsung ludes. 



Penjualan merchandise resmi Efek Rumah Kaca dan juga sablon t-shirt konser dari teman-teman Grafis Huru Hara juga laris manis bahkan sebelum konser dimulai. Sepanjang konser juga para penonton kompak untuk terus duduk agar pandangan ke panggung lebih enak menyesuaikan keadaan panggung yang tidak begitu tinggi. 





Aksi duduk ini pun akhirnya kalah juga dengan irama dangdut kontemporer dari bintang tamu kejutan OM PMR. 






Total durasi konser kurang lebih 4 jam dengan penonton sebanyak 2500 orang. Semua puas dan senang. 




Semua foto oleh Yose Riandi
Selasa, 04 Juli 2017

Playlist Lagu-Lagu Lokal Favorit di Paruh Pertama 2017

Mulai tahun ini sebisa mungkin saya mencatat semua rilisan musik dalam negeri dengan membuat folder lagu-lagu lokal yang dirilis dalam satu bulan yang sama. Informasi rilisnya biasanya saya dapat dari media, blog, post media sosial dari para kerabat hingga komen-komennya yang terkadang suka memberikan info menarik.

Dari folder yang ada lalu saya memilah menjadi lima puluh lagu lokal favorit sejauh ini di paruh pertama 2017 dalam playlist Setengah 17 ini. Sebenarnya masih ada beberapa favorit yang tidak masuk dalam playlist dikarenakan lagu dan albumnya tidak tersedia secara resmi di kanal-kanal streaming music pada umumnya. Ada yang memang belum atau mungkin tidak mau mengunggah lagu dan albumnya di berbagai toko digital namun juga ada yang sepertinya masih lebih nyaman mengunggah lagunya di Soundcloud dan juga Bandcamp. Agak disayangkan bagi mereka yang tidak tersedia di digital karena lagunya jadi tidak bisa 'dipamerkan' di Path. :p

Untuk rilisan musik lokal, sejauh ini 2017 terasa lebih meriah dibandingkan tahun lalu. Cukup banyak pendatang baru yang merilis single atau album di tahun ini. Sementara itu, nama-nama lama ada yang merilis karya baru dengan kualitas yang semakin membaik. Menyegarkan.


Perlu saya ingatkan juga bahwa playlist ini mungkin terdengar agak acak karena berisi berbagai genre yang saling berseberangan. Ada yang Pop banget, ada yang Indie Rock dan turunannya, lalu ada Jazz hingga Hip Hop dan RnB. Dengan keberagaman rilisan lokal di paruh pertama tahun ini, saya jadi sangat antusias menunggu rilisan-rilisan lokal lainnya pada sisa 2017.

Senin, 12 Juni 2017

[Mixtape] Sedatif Ringan

Mixtape terbaru yang berisi lagu-lagu yang mungkin dapat sedikit menenangkan para pengidap Aerofobia atau orang-orang yang selalu cemas dan takut saat melakukan penerbangan.

Saya sendiri tidak takut terbang malah biasanya sangat menikmati selama penerbangan. Walaupun di beberapa pesawat yang saya naiki tersedia perangkat hiburan audio visual, biasanya saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendengar lagu atau playlist sendiri yang dapat didengar offline pada handphone.

Tahun 2010 saya juga pernah membuat mixtape yang kurang lebih sama temanya, yakni lagu-lagu yang cocok didengar saat sedang menatap rangkaian awan dari dalam pesawat. Jadi bisa dikatakan mixtape Sedatif Ringan ini merupakan kelanjutan dari mixtape terdahulu.

Selain cocok dinikmati saat sedang berada di atas pesawat, mixtape ini sepertinya juga dapat menjadi pengantar menghanyutkan untuk tidur atau teman yang baik untuk kegiatan membaca buku.

Selamat mendengarkan.

Kamis, 09 Maret 2017

[Playlist] Angkatan 97


Dalam tiga bulan pertama di tahun 2017 ini saya kerap mendapati berbagai artikel di media atau blog musik internasional yang membahas lagu atau album yang tahun ini berulang tahun ke dua puluh. Kalau dilihat dari list, tahun 1997 memang dipenuhi rilisan-rilisan musik yang hingga kini masih jadi perbincangan dan memiliki pengaruh yang besar.




Situasinya mirip dengan tahun 1969 atau 1971 yang banyak dinilai sebagai tahun terbaik musik. Dari sini, saya lalu mengambil kesimpulan: rilisan musik tahun ganjil biasanya lebih bagus dan esensial dibandingkan rilisan tahun genap. Contoh paling mudah: di dunia musik internasional, album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band yang kerap dilabeli sebagai album The Beatles terbaik dan juga album terbaik yang pernah direkam sepanjang masa juga dirilis di tahun ganjil, yakni 1969. Sementara itu album yang dilabeli sebagai album terbaik Indonesia sepanjang masa, soundtrack film Badai Pasti Berlalu dirilis di tahun ganjil 1977.

Kembali ke tahun 1997, di Indonesia kala itu adalah masanya musik pop Indonesia arus utama masih terdengar keren.




Ada Dewa 19 dengan Pandawa Lima yang sukses baik dari segi artistik maupun komersial. Hal yang sama yang terjadi pada grup Potret melalui album II dan Protonema dengan album November. Ada juga kolaborasi Chrisye dan Guruh Soekarno Putra yang mencapai puncaknya. Atau debut album dari para pendatang baru yang menjanjikan seperti Reza, /rif atau Flowers.




Tahun 1997 juga tahun dimana musik alternatif muncul ke permukaan khalayak umum. Terima kasih untuk MTV Indonesia yang kala itu memutar video musik dari band-band alternatif seperti Cherry Bombshell atau Kubik.

Dunia musik Indonesia di sepanjang tahun 1997 bertambah semarak dengan kehadiran barisan one hit wonder. Contoh paling signifikan hits "Mungkinkah" dari Stingky yang meraup penjualan hingga satu juta copy. Ada juga "Kasih Jangan Pergi" dari band Bunga. Lagu ini naik popularitasnya di 1997 seiring kepergian salah satu personilnya, Galang Rambu Anarki, anak dari Iwan Fals. Barisan one hit wonder lainnya di 1997, antara lain "Pesawatku" dari Memes, "Damai" dari Wayang hingga "Ada Cinta" dari Bening.

Berdasarkan banyaknya lagu hits dan rilisan yang bagus sepanjang tahun, dapat saya katakan bahwa 1997 adalah tahun yang musikal. Mungkin juga sebagai tahun dengan rilisan terbaik di sepanjang 90an.

Tahun 1997 bagi saya pribadi juga tahun spesial karena di tahun itu untuk pertama kalinya saya mulai ngeband, setelah sebelumnya hanya belajar gitar dan bas saja tanpa ada praktek. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Saya masih ingat saat pertama kalinya latihan di studio, lagu pertama yang kami latih saat itu "Bobo" dari Netral yang saat itu baru dirilis. Lagu ini pada akhirnya menjadi salah satu lagu Netral terfavorit hingga saat ini.


Karena berbagai alasan itulah, saya membuat playlist ini sebagai penghargaan saya terhadap tahun musik di 1997. Saat mulai menyusun playlist ini, saya sempat merasa khawatir tidak banyak lagu Indonesia tahun itu yang tersedia di digital. Ternyata hampir semua lagu yang saya ingin masukkan ke playlist telah tersedia. Yang tidak ada hanya "Pelangi Semu" dari The Fly yang juga menjadi hits di tahun 1997. Lalu yang juga tidak tersedia, album solo perdana Dewa Budjana Nusa Damai yang sering saya dengarkan juga di kala itu. Begitu juga dengan one hit wonder Sinikini "Dan Senyumlah" tidak tersedia di digital. Selain itu, hits "Ada Cinta" juga tidak tersedia dari penyanyi aslinya. Yang ada versi Sm@Sh. Yah daripada tidak ada sama sekali lagu tersebut jadinya saya masukkan saja versi tersebut ke playlist.

Selamat mendengarkan playlist ini dan selamat bernostalgia, teman-teman angkatan 90an. :D


-->