Copyright © 2010-2013
Senin, 30 Juni 2014

Sheila on 7 Adalah Kita

"Liat mata gue, mas. Udah basah gini," kata seorang kawan yang bersama saya dan puluhan ribu orang lainnya menyaksikan penampilan Sheila On 7 pada Soundrenaline Medan tanggal 8 Juni 2014 lalu.






Kawan saya itu mengaku memiliki banyak kenangan pribadi dengan Sheila on 7 khususnya ketika ia pernah bermukim di Jogja. Namun di malam itu, tampaknya bukan hanya kawan saya yang memiliki kenangan terhadap Sheila on 7. Karena setiap orang yang menyaksikan Sheila on 7 di Soundrenaline Medan yang lalu paling tidak pernah memiliki kenangan terhadap satu atau dua lagu Sheila on 7 dalam hidup mereka.

Sheila on 7 lahir di era ketika band-band Indonesia seperti Dewa 19, Slank, Gigi, Kla Project tengah berjaya. Mereka hadir dengan musik yang tidak seglamor Kla Project, tidak seberandalan Slank dan tidak serumit Dewa 19 atau GIGI. Sheila on 7 bersinar dalam kebersahajaan dengan sendirinya.


Penampilan fisik setiap personil Sheila on 7 dari awal karir mereka hingga sepopuler seperti sekarang ini tetap sederhana dan jauh dari kesan bintang rock atau selebritis. Mungkin sekilas para personil Sheila on 7 tampak seperti anak kuliahan pada umumnya. Dan mendengar lagu-lagu Sheila on 7 seperti mendengar teman sepermainan kita bercerita dengan lirik-lirik lagu mereka yang bertutur apa adanya tanpa dikemas kata-kata puitis atau terasa norak sekalipun.



Kesederhanaan itulah yang membuat Sheila on 7 terasa tak berjarak dan lebih dekat dengan kita. Jika boleh meminjam salah satu tagline dari kandidat presiden nomer urut dua, Sheila on 7 adalah kita.

"Kita selalu manggung dengan gaya kita sendiri. Walau di Soundrenaline ini banyak band rock, bukan berarti penampilan kita juga ikutan ngerock," tukas vokalis Duta di press conference sesaat setelah mereka baru turun panggung di Soundrenaline Medan.



Malam itu, Sheila on 7 tampil di area Go Ahead Stage yang mana bukan merupakan panggung utama dari Soundrenaline. Di area Go Ahead Stage ini tampil band-band yang besar di komunitas arus pinggir seperti Shaggy Dog, The S.I.G.I.T,  Burgerkill, Seringai. Keberadaan Sheila on 7 pada panggung tersebut menyisakan tanda tanya bagi saya. Mengapa mereka tidak bermain di panggung utama dengan band-band seperti GIGI, Slank, dll? Untuk band yang pernah mendapat predikat sebagai band satu juta copy, rasanya sayang jika penampilan mereka tidak mendapat sorotan utama dalam Soundrenaline ini.

"Yah, kami sih ngikut aja, mas. Diminta main di panggung ini yah ayo," jawab Duta ketika saya bertanya langsung kepadanya seusai pentas mengenai alasan mengapa mereka bermain di area Go Ahead Stage.

Walau begitu, penampilan Sheila on 7 malam itu di Soundrenaline sukses membawa nostalgia yang manis. Beberapa kali Duta bergurau di atas panggung dengan memperkenalkan Sheila on 7 seakan-akan adalah band baru. Bahkan sesaat sebelum memainkan salah satu hits terbesar mereka "Dan", Duta memperkenalkan lagu tersebut sebagai salah satu lagu dari band yang pernah terkenal di akhir 90an yang mereka akan daur ulang.



Mereka menyadari bahwa masa kejayaan Sheila on 7 dalam industri musik Indonesia sekarang ini sudah berakhir namun dengan mendengar koor penonton yang tiada berhenti ketika mereka tampil malam itu menjadi bukti bahwa lagu-lagu mereka tetap 'berbicara' di banyak orang hingga kini.




semua foto diambil oleh saya dengan menggunakan kamera Fuji XA-1

0 comments:

Poskan Komentar