Copyright © 2010-2013
Rabu, 17 April 2013

Berawal Dari Ports of Lima

Belum lama ini saat sedang melihat-lihat foto di akun Instagram, saya mendapati sebuah foto SORE yang diambil 5 tahun yang lalu, tepatnya di launching album kedua mereka, Ports of Lima. Seketika semua memori saya terhadap konser tersebut kembali terkuak. Foto Instagram tersebut diupload oleh seorang fotografer muda bernama Ananda Suryo yang kebetulan memiliki kesan mendalam terhadap launching Ports of Lima tersebut.

Saya lalu meminta Suryo menceritakan pengalamannya berdasarkan foto lama yang baru diupload kembali olehnya di akun Instagram.




Foto itu diambil saat lauching album kedua SORE, Ports of Lima yang menjadi salah satu gig paling memorable buat saya. Karena di situ awal mula saya memulai kegiatan sebagai fotografer panggung yang membawa saya dapat berkenalan secara langsung dengan para personil SORE dan merasakan apa yang namanya “star-strucked” bertemu idola. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA.

Saya sudah menikmati SORE sejak mereka merilis album Centralismo tahun 2005. Dimana waktu itu saya masih kelas 3 SMP. Jadi ceritanya waktu itu saya lagi jalan-jalan di Blok M Plaza dan lagi liat-liat CD di toko Musik Plus. Disitu saya menemukan CD Centralismo dengan stiker merahnya yang mencuri perhatian. Di sticker itu tertulis “one of five asian album worth buying –Time Magazine”. Ya, cuma itu motivasi saya membeli CD SORE.

Dan ternyata benar! That red sticker says it all. Bener-bener worth buying! Dari mulai lagu pertama berjudul “Bebas”, disambung ke “Mata Berdebu”, lalu, “Somos Libres”, dan “No Fruits for Today”, langsung nempel di kepala saya. Setelah itu, Centralismo menjadi album yang paling sering saya dengar saat itu, setelah tahun sebelumnya The Adams yang menempati posisi tersebut melalui album self-titlednya.
Kembali pada launching Ports of Lima, niat awal saya hanya sekedar iseng untuk membawa kamera dan mengabadikan momen konser lauching album tersebut. Tempat duduk saya di PPHUI saat itu termasuk yang tidak enak untuk memotret. Tapi karena sudah bawa kamera juga, jadi saya pikir, tidak apa lah saya foto-foto, biar gak rugi-rugi banget bawa kamera.

Kemudian foto-foto di launching saya publish di deviantart. Setelah itu, dengan modal nekat, saya mengirim pesan pribadi ke Mondo, dan mengirimkan link-link foto yang saya upload. Walaupun foto yang saya kirimkan tidak banyak, hanya lima buah saja, namun dalam hati saya berharap akan direspon oleh Mondo.

Tak diduga, keinginan saya terkabul. Mondo membalas pesan pribadi saya, menyampaikan ucapan terimakasih dan mengaku suka dengan hasil foto saya. Seketika muncul ide gila untuk menanyakan apakah saya boleh ikut mereka untuk mendokumentasikan setiap live performance dari SORE. Dan lagi-lagi saya mendapat respon positif dari Mondo. Saya langsung diberikan nomer telepon managernya dan diajak meeting untuk membahas lebih lanjut mengenai hal tersebut. Gila! Ya, akhirnya saya jadi official photographer band untuk pertama kalinya, dan bandnya adalah SORE!

Meeting akhirnya terlaksana juga. Bertemu di café Aksara kemang (saat itu Aksara masih punya café). Disitu saya bertemu dengan Ade Paloh, Mondo Gascaro, dan Yunita Dyah, manager mereka saat itu. Obrolan mengenai pekerjaan fotografi ini hanya berlangsung kurang lebih 1 jam, dan setelah itu berlanjut membahas hal-hal lain di luar pekerjaan, dari NBA hingga militer. Bahkan kami sampai diusir dari Aksara karena sudah mau tutup. Saya kira dengan diusirnya kami, saya sekalian pamit pulang, ternyata Ade malah mengajak untuk lanjut mengobrol-ngobrol di kemang foodfest. Walhasil, malam itu saya kembali ke rumah sekitar pukul 3 pagi.

Gig pertama saya bersama SORE, adalah Jakarta Rock Parade. Terbilang acara sangat besar untuk fotografer panggung baru seperti saya saat itu. Dan yang paling menarik adalah, SORE tidak jadi manggung di acara tersebut karena alasan pembayaran. Hari yang dinanti-nanti ternyata berbuah kegagalan. haha. Saya ingat saat itu saya menjadi salah satu penentu lewat voting apakah SORE tetap bermain atau tidak. Dan saya memilih untuk tidak bermain. Walaupun Ade Paloh sempat bersikeras ingin tetap manggung, karena dia sempat bertemu dengan beberapa penonton yang ternyata datang jauh jauh dari Lampung dan ingin sekali menonton SORE.

Dari sebelum mengenal mereka, saya memang sudah mengidolakan sosok Ade Paloh dan Mondo Gascaro. Setelah mengenal, jadi mulai tau sih “brengsek-brengsek” nya mereka. haha. Tapi semua itu tidak mengurangi kekaguman saya terhadap mereka. Setelah masuk ke dalam keluarga kecil SORE, saya jadi suka ikut terlibat hal-hal di luar band, misalnya seperti sekedar kumpul-kumpul dan ngobrol santai di studio pendulum, menjadi among tamu pada saat pernikahan Echa, buka puasa bareng di rumah Awan, dll.

Sebagai sebuah band, SORE itu jenius, berisi gerombolan musisi terbaik yang dimiliki Indonesia. Mereka adalah salah satu harta karun yang dimiliki Indonesia saat ini, dan tidak boleh menjadi punah begitu saja. 



Ananda Suryo Anindyo masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, semester kesekian. Kini menjadi videographer dari kanal video Sounds From the Corner, sembari juga menjadi manager untuk band Dried Cassava. Dulu menjadi fotografer panggung SORE namun semenjak mereka vakum, jadi fotografer panggung dari TIKA and The Dissidents, The Trees and the Wild, L’alphalpha, Grace Sahertian, dan tentunya Dried Cassava. Tapi karena kini SORE akan aktif kembali, Suryo akan kembali mengikuti SORE kemana saja mereka akan manggung. 
 

0 comments:

Poskan Komentar