Copyright © 2010-2013
Senin, 09 Juli 2012

Seni Membuat Mixtape


Apakah Anda pernah menerima atau membuat sebuah album kompilasi lagu dalam bentuk kaset, CD atau kumpulan MP3?

Kompilasi tersebut kerap hadir untuk berbagai maksud tertentu. Misalnya, mengungkapkan perasaan kepada orang yang dikasihi, atau teman dalam perjalanan di mobil.

Kumpulan lagu — yang dibuat tanpa tujuan komersial — dikenal dengan nama mixtape. Karena awalnya, budaya membuat  album kompilasi ini muncul saat orang masih banyak mendengarkan musik lewat medium kaset (tape).


Setelah era kaset mulai berakhir, medium lainnya seperti CD dan yang terakhir MP3 menjadi pilihan utama dalam membuat mixtape. Namun nama mixtape tetap bertahan.

Mungkin banyak orang beranggapan membuat mixtape ini sangat mudah. Hanya mengumpulkan lagu-lagu favorit, diberi sampul album lalu selesai. Memang pada intinya seperti itu. Namun membuat mixtape yang bagus membutuhkan keterampilan tersendiri.

Berikut ini beberapa hal yang patut diperhatikan dalam membuat mixtape:         

1. Tentukan tema
Ada baiknya sebelum memilih lagu, tentukan dulu temanya. Sebuah mixtape tanpa tema bagaikan makanan tanpa bumbu. Rasanya hambar dan kosong. Banyak tema yang bisa Anda pilih. Lebih bagus jika tema yang dipilih bersifat kasual, atau kegiatan yang pasti pernah dialami oleh orang sehari-hari.

Salah satu contohnya, saya pernah membuat mixtape untuk didengarkan pada perjalanan di pesawat terbang. Pernah juga saya membuat mixtape yang menampilkan lagu-lagu yang cocok didengarkan di pantai.

Atau kalau mau lebih spesifik, bisa juga pilih tema berdasarkan kesamaan latar belakang musik, seperti saat saya pernah membuat mixtape yang isinya lagu-lagu Indonesia yang dirilis sepanjang dasawarsa ’50-an atau mixtape yang hanya berisi lagu-lagu instrumental.

2.  Tentukan susunan lagu dan alur
Menyusun sebuah album kompilasi juga tidak lepas dari menentukan tracklist atau susunan lagu. Susunan lagu ini penting. Lagu pertama dalam mixtape cukup krusial. Pilihlah lagu yang dapat langsung menarik perhatian atau yang dapat membangun suasana hati dari tema mixtape secara keseluruhan.

Terkadang saya memasukkan lagu dengan tempo pelan pada urutan pertama. Seperti mixtape lagu-lagu yang cocok didengarkan di dalam mobil saat perjalanan. Saya menaruh lagu instrumental bertempo pelan dengan durasi di bawah satu menit.

Namun ada kalanya, saya ingin menggebrak dari awal. Karena itu saya langsung menaruh lagu-lagu bertempo cepat atau lagu-lagu hits yang pasti familiar di telinga banyak orang. Seperti saat menaruh lagu hits “Lovely Day” dari Bill Withers pada urutan pertama di mixtape Valentine saya ini.

Perhatikan juga alur dari mixtape. Apakah alurnya naik dari awal lalu turun di akhir? Atau semakin lama semakin naik? Hal ini penting agar orang tidak jenuh di pertengahan alur dari mixtape.

Supaya pendengar tidak bosan, jangan menaruh lagu-lagu dengan tempo dan jenis yang sama berturut-turut. Misalnya secara berturut, menaruh empat lagu dengan penyanyi wanita. Buatlah variasi dan selingan antar lagu. Seperti yang saya buat pada mixtape ini, yang menampilkan lagu-lagu bertempo pelan dan cepat serta lagu-lagu dengan penyanyi pria dan wanita secara berselingan.

3. Tentukan durasi
Karena mixtape pada awalnya dibuat dalam bentuk kaset, maka kita bisa mengikuti durasi standar kaset (60 menit, 90 menit, 110 menit dan 120 menit).

Dalam membuat mixtape, jangan memulai dengan menentukan jumlah lagu. Tetapi tentukanlah terlebih dahulu seberapa panjang durasinya. Ini lebih krusial dalam medium MP3 — karena medium ini tidak mempunyai keterbatasan rentang waktu tertentu, tidak seperti kaset dan CD.

Saya biasanya tidak pernah membuat mixtape dengan durasi lebih dari dua jam. Mixtape terlama saya berdurasi satu setengah jam, yakni pada mixtape penerbangan. (Saya memperkirakan durasi rata-rata penerbangan jarak pendek, yakni satu setengah jam.)

Mixtape yang baik adalah yang mampu membuat orang tahan dan fokus mendengar dari lagu pertama hingga terakhir. Nah, semakin lama durasi sebuah mixtape semakin besar kemungkinan pendengar akan bosan dan berhenti mendengarkan walau masih di pertengahan. Sayang, bukan?


Artikel ini tayang di Yahoo! Indonesia pada tanggal 6 Juni 2012

0 comments:

Poskan Komentar