Copyright © 2010-2013
Rabu, 04 Agustus 2010

Day #3: I Could Be Dreaming



Di jaman ketika musik telah menjadi sebuah 'agama' tersendiri bagi banyak orang, istilah naik haji juga tidak hanya dimiliki oleh pemeluk agama Islam saja. Naik haji bagi penggemar musik adalah ketika seseorang telah berhasil menonton langsung band pujaannya. Band pujaan yang selama ini semua rilisannya didengarkan secara religius dan setiap lagunya diresapi secara khusuk layaknya mengamalkan ayat-ayat kitab suci.

Di hari ini, kurang dari 24 jam dari saya menulis tulisan ini, saya akan mengikuti ibadah haji indie pop dengan menonton band kecintaan saya selama ini, Belle and Sebastian. Dan betapa beruntungnya saya, ibadah haji ini memiliki muatan spiritual yang berlipat ganda pahalanya karena kebetulan band saya, Ballads of the Cliche berkesempatan menjadi salah satu band pembuka konser Belle and Sebastian di Indonesia. 

Mungkin saya berlebihan, tapi diberkahi semua kesempatan ini rasanya seperti sebuah mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Mengikuti ibadah haji dengan menyimak siraman rohani dari Belle and Sebastian langsung di depan mata saja sudah merupakan cita-cita mulia yang dari dulu selalu dinantikan dengan setia. Dan kini, setelah cita-cita itu akan terwujud, datang lagi sebuah kenyataan dimana apa yang saya dapat melebihi pengharapan selama ini.

Bagi Ballads of the Cliche sendiri, Belle and Sebastian juga menjadi salah satu band panutan kami. Hampir semua personil di band ini memiliki kadar fanatisme yang cukup berlebih sebagai penggemar mereka. Namun menjadi pembuka konser Belle and Sebastian sungguh tidak pernah terlintas di benak kami sebelumnya. Yang selalu kami impikan hanyalah dapat menonton konser mereka bersama-sama. Itu sudah cukup bagi kami semua.

Jadi ketika kami mendapat tawaran untuk menjadi salah satu band pembuka dari konser Belle and Sebastian reaksi pertama kami seperti setengah tidak percaya. Selain alasan bahwa kesempatan ini melebihi pengharapan selama ini, kami juga menyadari bahwa Ballads of the Cliche bukanlah band misalnya seperti White Shoes and the Couples Company atau Efek Rumah Kaca yang walaupun berkarir di industri musik non mainstream namun memiliki basis penggemar yang kuat dan besar hingga layak untuk menjadi pembuka konser dari band internasional dalam skala event yang bisa terbilang cukup besar seperti ini.

Bukannya merendah untuk meninggikan mutu, namun apa yang saya katakan di atas benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada. Kami sadar betul posisi Ballads of the Cliche selama ini berada di mana. Bermain band bagi saya dan teman-teman di Ballads of the Cliche masih dalam tahap bersenang-senang di kala kepenatan pekerjaan sehari-hari. 

Karena itu juga dengan terpilihnya kami sebagai salah satu band pembuka konser Belle and Sebastian, kami tidak menganggapnya sebagai beban yang malah akan menyingkirkan kesenangan itu sendiri. Tapi kami lebih menganggap ini sebagai berkah yang harus disyukuri dan sepatutnya dirayakan dengan penuh kebahagiaan di panggung nanti.

Yah, mungkin saya dan teman-teman yang berada di Ballads of the Cliche hanyalah penggemar-penggemar Belle and Sebastian yang beruntung. Atau mungkin saja kami saat ini tengah bermimpi? Jika hidup ini ada dalam skenario film Inception, jadi selama totem masih berputar, mimpi ini pun masih terus kami nikmati setiap detiknya.

0 comments:

Poskan Komentar