Copyright © 2010-2013
Sabtu, 30 Desember 2017

Lagu-Lagu Indonesia Terfavorit Sepanjang 2017


Kembali lagi ke ritual menyenangkan menjelang akhir tahun yakni menyusun lagu-lagu favorit yang dirilis sepanjang tahun. Tahun ini menginjak tahun kesebelas saya membuat daftar musik-musik favorit tahunan, yang dulu saya mulai di almarhum Multiply.

Biasanya lagu-lagu yang sudah terpilih saya susun dalam satu playlist. Di zaman Multiply dan era-era awal menulis di Madahbakti, saya membagikan playlist untuk dapat diunduh. Dalam empat tahun terakhir seiring dengan konsumsi streaming semakin besar, saya menyediakan playlist di berbagai layanan streaming. Namun di tahun ini, saya mengalami kesulitan saat ingin memasukkan semua lagu favorit dalam satu playlist.

Alasan pertama, karena musisi dan band Indonesia menyebarkan musiknya dalam berbagai platform yang berbeda-beda. Ada yang hanya menggunakan YouTube, ada yang menjadi pengguna Bandcamp yang setia, ada yang lebih nyaman di Soundcloud saja, ada juga yang sama sekali tidak tersedia dalam ranah digital. Alasan kedua, setelah saya sortir jumlah lagu-lagu terfavorit, ternyata ada lebih dari 50 lagu yang terdiri dari berbagai genre musik. Jadinya kalau dipaksakan dalam satu playlist yang sama juga akan terdengar acak dan membutuhkan komitmen waktu yang cukup besar untuk mendengarkan dari awal hingga akhir.

Karena itu, untuk lagu-lagu Indonesia terfavorit tahun ini saya mencoba untuk menyusunnya berdasarkan kategori genre dan menulis daftarnya saja. Jadi tidak lagi tersusun dalam sebuah playlist. Jika kalian menyukai beberapa lagu yang ada dalam daftar ini, silakan masukkan lagu-lagu tersebut dalam playlist pribadi. Semua lagu dalam daftar ini dirilis dalam periode Desember 2016 hingga Desember 2017.

2017 adalah tahun yang sangat dinamis bagi musik Indonesia. Dari munculnya bintang-bintang baru, album-album yang lama dinantikan akhirnya dirilis juga, konser-konser dan festival musik yang kerap habis terjual tiketnya dan selalu dipenuhi penonton, menjamurnya tempat pertunjukkan berskala kecil di ujung-ujung Jakarta yang menjadi kawah candradimuka bagi band-band kotamadya sekitar, beragam kolaborasi yang menyegarkan, lagu-lagu Indonesia yang mendulang puluhan juta view di YouTube hingga perayaan kebangkitan musik-musik Indonesia lama.

Salut untuk semua musisi Indonesia yang berkarya sepanjang tahun ini. Bersulang untuk musik Indonesia yang lebih baik lagi di 2018.


Kolaborasi 


Manual Hidup Hepi Bab 1.1 - Rand Slam x Jason Ranti 


OM PMR feat Kunto Aji - Too Long to be Alone


Lazuardi - Zeke Khaseli & Yudhi Arfani & Cholil Mahmud


Perbatasan - Filastine & Nova 


Tigapagi & Danilla - Tidur Bersama


Gelembung Kaca - Puti Chitara & Cholil Mahmud 


Sweet Talk - Sheryl Sheinafia & Rizky Febian feat.. Chandra Liow


Sembunyi - Frau & Restu Ratnaningtyas


Check Your People – Morgue Vanguard x Doyz 



Indie Rock/Alternative


Rangkum – Polka Wars


Fana – Mooner


Amelie – Barefood


Meramu - Danilla


Meranggas – Pelteras


Void - Heals


Highway – Jaminan Mutu


We’re Lot Like You – Hightime Rebellion


Inner Space – Gud Hardan


Is It the Answer – Reality Club


Rintik – Pandai Besi


Menit – Anomalyst


Preclear  - Glaskaca


I’m Ok - Suasanasabtupagi


Surfin’ Java – The Mentawais



Indiepop


Yesterday Is Gone - The Cottons


Coolibah ’97 – Moonbeams


Out of Line – Bedchamber


Lagu Pagi  - Cleve


Singgah Dunia – Grup Musik Hari Libur


Then I Put My Lips On Your Head – Humsikk


I Am You – Secret Meadow




Folk 


Suci Maksimal – Jason Ranti


Mainan – Adrian Yunan


Love Is  - Duta Pamungkas feat. Achi Hardjakusumah


Bapak - Iksan Skuter 


Lagu Wajib - Sisir Tanah


Soon Finland - The Girl with the Hair


Puisi Pagi - MarcoMarche 




Pop


Senang – MALIQ & D’Essentials


Bad Company – Rendy Pandugo


Remaja – HIVI!


Selalu Muda – Payung Teduh


Nostalgia – Calvin Jeremy


Antri Yuk - Nonaria




Hip Hop 


Ayat – Rand Slam


Third Freestyle – Yosugi feat. Shotgundre


Sans Sheriff – Juta


Dalli Nestra – Senartogok


Cozy - Basboi





Soul/R&B


I Like U - NIKI


Tersenyumlah – Dimas Pradipta feat. Adinda Shalahita & Rayi Putra


Katakan Saja – Revo Marty


Let Me - Teddy Adhitya


Agis Kania – Baby You


Pretty Girl – Rayi Putra


Pure Fantasy – Atlesta


Wreck This Journal – Coldiac


Let Go – Emir Hermono feat. Daaliah




Jazz


Suatu Saat Di Jakarta (Trio Version)  - Johannes Rusli & Andy Gomez feat. Nesia Ardi, Odi Purba & Elfa Zulham


Transition – Rafi Muhammad


News of the Weird – Kristian Dharma


Dimensions – Gerald Situmorang


Stand Still - Jordy Waelauruw feat. Kunto Aji



Electronica


East Indies – Bottlesmoker feat. Kronutz


Un Deux Trois – Mantra Vutura


It’s Gonna Be Alright – Logic Lost


Only You – Eigengrau


Fin – Arrio



Ska

Lhaiki - Sentimental Moods



New Age


Gardika Gigih - Kereta Senja




Kamis, 03 Agustus 2017

Tiba Tiba Suddenly Konser Again Efek Rumah Kaca

Tiba Tiba Suddenly Konser dari Efek Rumah Kaca tahun lalu sepertinya meninggalkan kesan yang manis bagi banyak orang. Saat publik mengetahui bahwa vokalis Cholil Mahmud saat ini sedang berada di Indonesia, banyak komentar yang masuk di akun media sosial ERK yang meminta kami untuk kembali membuat konser dadakan. Lucu juga kedatangan Cholil sementara waktu ke Indonesia jadi identik dengan konser dadakan. Permintaan pun semakin bertambah saat kami merilis jadwal di bulan Juli dan tidak ada satu pun jadwal yang berada di Jakarta. 

Karena desakan permintaan yang begitu banyak ditambah dengan jadwal ERK sejauh ini yang tidak ada yang di Jakarta, maka saat direktur RURUradio, Oomleo mengajukan ide untuk membuat konser dadakan untuk kedua kalinya, tidak pikir panjang saya mewakili manajemen ERK, langsung mengiyakan. 

Karena jadwal akhir pekan Efek Rumah Kaca sudah penuh maka mau tidak mau konser kembali diadakan di hari kerja seperti tahun lalu. Jaman sekarang penduduk Jakarta juga semakin gemar bersenang-senang hingga larut malam di hari kerja sementara besok pagi kembali beraktivitas. 



Seminggu sebelum hari H, kami baru bergerak mencari sponsor dan tentu saja tidak ada brand yang menyanggupi mengucurkan uang dalam hitungan hari. Akhirnya seperti Tiba Tiba Suddenly Konser tahun lalu, Tiba Tiba Suddenly Konser Again juga diselenggarakan secara mandiri tanpa sponsor atau donatur. 

Untungnya keluarga besar Efek Rumah Kaca dan RURUradio memiliki tim yang sigap dan tangkas yang terbiasa kerja mepet deadline dan mepet uang juga. :D Beberapa persoalan teknis yang akan membuat budget membengkak dengan cepat dipangkas. Begitu juga dengan ide-ide konten yang akan ditampilkan di panggung yang dirasa terlalu membutuhkan usaha yang banyak, juga ditiadakan.

Khusus mengenai konten, sebisa mungkin kami tidak mau mengulang konsep yang sudah digunakan pada Tiba Tiba Suddenly Konser tahun lalu. Dalam mempersiapkan konten juga jalannya tidak selalu mulus yang membuat tegang-tegang di menit-menit akhir. Misalnya Oomleo yang hardisknya tiba-tiba ngadat saat sedang membuat teks karaoke atau saat beberapa orang yang kami minta untuk turut  hadir dan berbicara di atas panggung sampai detik-detik terakhir ternyata membatalkan kesediaannya karena masih terjebak meeting atau ada acara lainnya yang tidak bisa ditinggal. 

Kami semua maklum dengan keadaan tersebut. Karena memang semuanya serba mendadak. Jika publikasi konser tahun lalu dilakukan 24 jam sebelum acara, kali ini publikasi dilakukan H min 2 sebelum acara agar lebih banyak orang lagi yang tidak telat mengetahui info mengenai konser.

Satu hal yang selalu mengundang rasa salut adalah antusiasme dan tertibnya para penonton di Tiba Tiba Suddenly Konser Again. Dua jam sebelum tiket booth dibuka, calon penonton sudah mulai mengantri. Dalam waktu satu jam setelah penjualan tiket resmi dibuka, 1000 tiket langsung ludes. 



Penjualan merchandise resmi Efek Rumah Kaca dan juga sablon t-shirt konser dari teman-teman Grafis Huru Hara juga laris manis bahkan sebelum konser dimulai. Sepanjang konser juga para penonton kompak untuk terus duduk agar pandangan ke panggung lebih enak menyesuaikan keadaan panggung yang tidak begitu tinggi. 





Aksi duduk ini pun akhirnya kalah juga dengan irama dangdut kontemporer dari bintang tamu kejutan OM PMR. 






Total durasi konser kurang lebih 4 jam dengan penonton sebanyak 2500 orang. Semua puas dan senang. 




Semua foto oleh Yose Riandi
Selasa, 04 Juli 2017

Playlist Lagu-Lagu Lokal Favorit di Paruh Pertama 2017

Mulai tahun ini sebisa mungkin saya mencatat semua rilisan musik dalam negeri dengan membuat folder lagu-lagu lokal yang dirilis dalam satu bulan yang sama. Informasi rilisnya biasanya saya dapat dari media, blog, post media sosial dari para kerabat hingga komen-komennya yang terkadang suka memberikan info menarik.

Dari folder yang ada lalu saya memilah menjadi lima puluh lagu lokal favorit sejauh ini di paruh pertama 2017 dalam playlist Setengah 17 ini. Sebenarnya masih ada beberapa favorit yang tidak masuk dalam playlist dikarenakan lagu dan albumnya tidak tersedia secara resmi di kanal-kanal streaming music pada umumnya. Ada yang memang belum atau mungkin tidak mau mengunggah lagu dan albumnya di berbagai toko digital namun juga ada yang sepertinya masih lebih nyaman mengunggah lagunya di Soundcloud dan juga Bandcamp. Agak disayangkan bagi mereka yang tidak tersedia di digital karena lagunya jadi tidak bisa 'dipamerkan' di Path. :p

Untuk rilisan musik lokal, sejauh ini 2017 terasa lebih meriah dibandingkan tahun lalu. Cukup banyak pendatang baru yang merilis single atau album di tahun ini. Sementara itu, nama-nama lama ada yang merilis karya baru dengan kualitas yang semakin membaik. Menyegarkan.


Perlu saya ingatkan juga bahwa playlist ini mungkin terdengar agak acak karena berisi berbagai genre yang saling berseberangan. Ada yang Pop banget, ada yang Indie Rock dan turunannya, lalu ada Jazz hingga Hip Hop dan RnB. Dengan keberagaman rilisan lokal di paruh pertama tahun ini, saya jadi sangat antusias menunggu rilisan-rilisan lokal lainnya pada sisa 2017.

Senin, 12 Juni 2017

[Mixtape] Sedatif Ringan

Mixtape terbaru yang berisi lagu-lagu yang mungkin dapat sedikit menenangkan para pengidap Aerofobia atau orang-orang yang selalu cemas dan takut saat melakukan penerbangan.

Saya sendiri tidak takut terbang malah biasanya sangat menikmati selama penerbangan. Walaupun di beberapa pesawat yang saya naiki tersedia perangkat hiburan audio visual, biasanya saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendengar lagu atau playlist sendiri yang dapat didengar offline pada handphone.

Tahun 2010 saya juga pernah membuat mixtape yang kurang lebih sama temanya, yakni lagu-lagu yang cocok didengar saat sedang menatap rangkaian awan dari dalam pesawat. Jadi bisa dikatakan mixtape Sedatif Ringan ini merupakan kelanjutan dari mixtape terdahulu.

Selain cocok dinikmati saat sedang berada di atas pesawat, mixtape ini sepertinya juga dapat menjadi pengantar menghanyutkan untuk tidur atau teman yang baik untuk kegiatan membaca buku.

Selamat mendengarkan.

Kamis, 09 Maret 2017

[Playlist] Angkatan 97


Dalam tiga bulan pertama di tahun 2017 ini saya kerap mendapati berbagai artikel di media atau blog musik internasional yang membahas lagu atau album yang tahun ini berulang tahun ke dua puluh. Kalau dilihat dari list, tahun 1997 memang dipenuhi rilisan-rilisan musik yang hingga kini masih jadi perbincangan dan memiliki pengaruh yang besar.




Situasinya mirip dengan tahun 1969 atau 1971 yang banyak dinilai sebagai tahun terbaik musik. Dari sini, saya lalu mengambil kesimpulan: rilisan musik tahun ganjil biasanya lebih bagus dan esensial dibandingkan rilisan tahun genap. Contoh paling mudah: di dunia musik internasional, album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band yang kerap dilabeli sebagai album The Beatles terbaik dan juga album terbaik yang pernah direkam sepanjang masa juga dirilis di tahun ganjil, yakni 1969. Sementara itu album yang dilabeli sebagai album terbaik Indonesia sepanjang masa, soundtrack film Badai Pasti Berlalu dirilis di tahun ganjil 1977.

Kembali ke tahun 1997, di Indonesia kala itu adalah masanya musik pop Indonesia arus utama masih terdengar keren.




Ada Dewa 19 dengan Pandawa Lima yang sukses baik dari segi artistik maupun komersial. Hal yang sama yang terjadi pada grup Potret melalui album II dan Protonema dengan album November. Ada juga kolaborasi Chrisye dan Guruh Soekarno Putra yang mencapai puncaknya. Atau debut album dari para pendatang baru yang menjanjikan seperti Reza, /rif atau Flowers.




Tahun 1997 juga tahun dimana musik alternatif muncul ke permukaan khalayak umum. Terima kasih untuk MTV Indonesia yang kala itu memutar video musik dari band-band alternatif seperti Cherry Bombshell atau Kubik.

Dunia musik Indonesia di sepanjang tahun 1997 bertambah semarak dengan kehadiran barisan one hit wonder. Contoh paling signifikan hits "Mungkinkah" dari Stingky yang meraup penjualan hingga satu juta copy. Ada juga "Kasih Jangan Pergi" dari band Bunga. Lagu ini naik popularitasnya di 1997 seiring kepergian salah satu personilnya, Galang Rambu Anarki, anak dari Iwan Fals. Barisan one hit wonder lainnya di 1997, antara lain "Pesawatku" dari Memes, "Damai" dari Wayang hingga "Ada Cinta" dari Bening.

Berdasarkan banyaknya lagu hits dan rilisan yang bagus sepanjang tahun, dapat saya katakan bahwa 1997 adalah tahun yang musikal. Mungkin juga sebagai tahun dengan rilisan terbaik di sepanjang 90an.

Tahun 1997 bagi saya pribadi juga tahun spesial karena di tahun itu untuk pertama kalinya saya mulai ngeband, setelah sebelumnya hanya belajar gitar dan bas saja tanpa ada praktek. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Saya masih ingat saat pertama kalinya latihan di studio, lagu pertama yang kami latih saat itu "Bobo" dari Netral yang saat itu baru dirilis. Lagu ini pada akhirnya menjadi salah satu lagu Netral terfavorit hingga saat ini.


Karena berbagai alasan itulah, saya membuat playlist ini sebagai penghargaan saya terhadap tahun musik di 1997. Saat mulai menyusun playlist ini, saya sempat merasa khawatir tidak banyak lagu Indonesia tahun itu yang tersedia di digital. Ternyata hampir semua lagu yang saya ingin masukkan ke playlist telah tersedia. Yang tidak ada hanya "Pelangi Semu" dari The Fly yang juga menjadi hits di tahun 1997. Lalu yang juga tidak tersedia, album solo perdana Dewa Budjana Nusa Damai yang sering saya dengarkan juga di kala itu. Begitu juga dengan one hit wonder Sinikini "Dan Senyumlah" tidak tersedia di digital. Selain itu, hits "Ada Cinta" juga tidak tersedia dari penyanyi aslinya. Yang ada versi Sm@Sh. Yah daripada tidak ada sama sekali lagu tersebut jadinya saya masukkan saja versi tersebut ke playlist.

Selamat mendengarkan playlist ini dan selamat bernostalgia, teman-teman angkatan 90an. :D


-->
Jumat, 30 Desember 2016

Dimas Ario's Favorite Songs of 2016

2016 adalah tahun yang paling sering dijadikan kambing hitam oleh netizen. Sudah banyak media yang memvonis 2016 sebagai tahun terburuk di berbagai aspek terutama sosial, politik.

Lalu bagaimana dengan 2016 di dunia musik? Apakah juga menjadi tahun terburuk?

Yang pasti banyak kesedihan di dunia musik yang terjadi tahun ini dengan mangkatnya para penyanyi dan musisi senior. Walaupun begitu 2016 telah mengajarkan para musisi bagaimana #pergidengankarya itu jauh lebih elegan dibandingkan #balasdengankarya. Album perpisahan dari David Bowie dan Leonard Cohen telah membuat para pecinta musik sudah harus bersiap jika suatu saat nanti Paul McCartney, Brian Wilson dan Bob Dylan akan melakukan hal yang sama.

Bagaimanapun, 2016 tidaklah menjadi tahun terburuk untuk musik.


Di dunia musik Amerika Serikat a.k.a internasional, 2016 menghasilkan beberapa standar baru yang mungkin bisa jadi acuan ke depannya. Di 2016, tanggal rilis album yang diumumkan ke publik menjadi sebuah kebiasaan yang usang yang mulai ditinggalkan oleh beberapa musisi yang lebih memilih untuk rilis album secara tiba-tiba suddenly. Ada Beyonce yang memperdengarkan album barunya melalui kompilasi video musik yang tayang di HBO, lalu Frank Ocean yang juga merilis sebuah "album visual" di suatu malam secara tiba-tiba sebagai teaser untuk album barunya Blonde yang dirilis pada pekan yang sama serta Radiohead yang menghapus semua post di media sosial mereka sebagai penanda dirilisnya album terbaru.

2016 juga menjadi tahun kemunculan kembali bagi para musisi atau grup musik yang telah 'vakum karya' selama belasan tahun seperti The Avalanches (16 tahun), A Tribe Called Quest (18 tahun) dan American Football (17 tahun).

Tahun ini juga menjadi tahun yang baik untuk Hip Hop, Soul dan RnB melalui rilisan-rilisan yang bisa dikatakan sejauh ini menjadi rilisan terbaik sepanjang karir mereka. Contohnya seperti kakak beradik, Beyonce dengan Lemonade dan Solange dengan A Seat at the Table, lalu juga Frank Ocean dengan Blonde.

Sementara itu di dunia musik dalam negeri, 2016 menjadi tahun yang cukup menyegarkan. Salah satu yang bersinar tahun ini ialah kolektif pencipta lagu Laleilmanino yang terdiri dari Nino dari RAN serta Lale dan Ilman dari Maliq & D'Essentials yang membuat musik Pop Indonesia arus utama saat ini memiliki kualitas yang baik. Jejak mereka dapat disimak pada lagu-lagu terbaru dari Rio Febrian, Maudy Ayunda, HIVI, Vidi Aldiano hingga Armand Maulana.

Nama-nama lama di musik Pop Indonesia arus utama seperti Raisa, Tulus, Tompi dan Ran merilis album baru di 2016. Selain mereka, rasanya tidak banyak lagi musisi arus utama yang merilis album. Karena mereka kini lebih memilih untuk merilis satu lagu saja sebagai single. Contoh sukses merilis single di 2016 ada pada Anji dengan "Dia" yang merupakan lagu Indonesia yang paling banyak diputar di YouTube selama 2016 sekaligus menjadi lagu resmi pengamen jalanan tahun ini. Lalu ada juga Dipha Barus dengan "No One Can Stop Us" yang menjadi anthem baru di lantai dansa serta HIVI dengan "Pelangi" yang mendapat rotasi tinggi di berbagai radio sekaligus sukses dalam rangka mengenalkan vokalis baru mereka.

Pengaruh 80an yang melanda dunia musik Pop internasional dalam kurun waktu dua tahun terakhir akhirnya melanda di Indonesia. Tahun ini, lagu terbaru dari Lala dan juga Calvin Jeremy terasa sangat 80an.

2016 juga menjadi teaser untuk para penyanyi Pop pendatang baru yang mungkin akan bersinar kelak, seperti Randy Pandugo dan Gloria Jessica.

Pada musik dalam negeri arus pinggir, 2016 adalah tahun yang sangat menggairahkan untuk Hip Hop. Seperti yang sudah banyak dibahas, tahun ini Hip Hop banyak mendapat sorotan terutama dengan kepopuleran Rich Chigga dan Young Lex. Akibatnya, bermunculan di permukaan nama-nama MC dan produser lokal lainnya yang mungkin selama ini hanya dikenal terbatas di komunitas Hip Hop. Nama-nama yang mencuat sepanjang 2016 antara lain, kolektif Zero One dengan Laze, Mack'G, Roy Ricardo, dll, kolektif Underground Bizniz Club dengan rappernya seperti Matter, Tuantigabela$, Sonjah, lalu Cul De Sac Collective dengan produser Yosugi serta rapper dari Jayapura, Joe Million dan Rand Slam.

Kota Bandung yang dalam lima tahun terakhir rasanya sepi-sepi saja, tahun ini mulai kembali bising dengan kehadiran band-band seperti Collapse, Heals, Fuzzy, I, Uncanny, Pipepole. Di tahun ini juga Bandung menelurkan pelantun dan pencipta lagu muda yang patut diantisipasi pergerakannya di masa depan seperti Bin Idris, Oscar Lolang, Wangi Gitaswara, Mustache and Beard, dan Jims Adrian.

Sementara di JABODETABEK, banyak sekali bermunculan band-band baru yang ditempa di berbagai micro gig yang tersebar dari Bekasi, Bogor hingga Tangerang. Beberapa micro gig yang berjalan cukup rutin di 2016 antara lain Pop Core, Indikasi, berbagai acara dari We Hum Collective, Swin666er Party, We Need More Room.

Selain micro gig tersebut, panggung-panggung pertunjukkan besar yang menampilkan musisi atau band arus pinggir juga terasa menawan sepanjang tahun 2016 yang dimulai dengan megah oleh konser Sinestesia Efek Rumah Kaca dan diakhiri dengan khidmat oleh Konser Tanah Air dari Senyawa. Sepanjang tahun 2016 juga diisi oleh rentetan pertunjukan folk yang diinisasi oleh Felix 'Folk' Dass yang diadakan di Teater Kecil dan IFI.

Di luar itu semua, 2016 juga menyisakan kisah sedih untuk kancah indepeden lokal dengan bubarnya duo Banda Neira dan band indie rock underrated, Cause. Sebuah langkah berani yang perlu dihargai daripada hidup terus namun malah semakin tak bernyawa.

Karena banyak musik yang saya nikmati sepanjang 2016 ini maka pada tahun ini untuk pertama kalinya saya membuat dua playlist untuk masing-masing lagu internasional dan lagu dalam negeri. Jadi total playlist lagu favorit tahunan untuk 2016 ada empat playlist.

Untuk playlist internasional secara khusus saya membuat playlist lagu-lagu Hip Hop, Soul RNB favorit karena banyaknya rilisan di genre tersebut yang saya nikmati tahun ini. Playlist internasional yang satu lagi berisi lagu-lagu Pop, Jazz, Indie rock favorit.

Sementara itu untuk playlist dalam negeri, playlist A menampilkan lagu-lagu Pop yang radio-friendly sedangkan playlist B menampilkan lagu-lagu favorit dari para musisi dan band arus pinggir tanah air.

Karena konsumsi musik kita kini sudah berubah, saya tidak lagi menyediakan tautan untuk mengunduh playlist seperti tahun-tahun sebelumnya. Kini playlist bisa didengarkan via streaming di Apple Music dan Spotify. Untuk beberapa lagu Indonesia yang tidak tersedia di kedua platform, saya berikan tautan YouTube dan Soundcloudnya.

Selamat mendengarkan dan terima kasih 2016 atas musik-musik yang hebat.



Dimas Ario's Favorite Internasional Songs of 2016 (disusun bukan berdasarkan peringkat terfavorit)

Side A

1.     Cranes in the Sky – Solange
2.     Black Man in a White World – Michael Kiwanuka
3.     Reality Check - Noname feat. Eryn Allen 
4.     Bus in These Streets – Thundercat
5.     The Big Big Beat – Azealia Banks
6.     Untitled 8 | 09.06.2014 – Kendrick Lamar
7.     We the People... – A Tribe Called Quest
8.     Cosmic Love – Mayer Hawthrone
9.     Kiss It Better – Rihanna
10. Fat Night – Sun Go Down
11. Too Good – Drake feat. Rihanna
12.  Redbone – Childish Gambino
13.  Best to You – Blood Orange
14.  Pyramids – Common
15.  Pink + White - Frank Ocean
16.  The Dreamer – Anderson. Paak feat. Talib Kweli & Timan Family Choir
17.  Blessings – Chance the Rapper
18.  Father Stretch My Hands, Pt.1 – Kanye West
19.  Exodus – De La Soul
20.  Hey (Extended Mix) – KING





Side B

1.     Raxeira – Bibio
2.     Colours – The Avalanches
3.     07:41 – Still Parade
4.     The Halfwit in Me – Ryley Walker
5.     Brunch With Suki – Mark Barrot
6.     Skiptracing – Mid High Club
7.     Seven Words – Weyes Blood
8.     Impossible Hand – Stephen Steinbrink
9.     Fool – Frankie Cosmos
10. Versace On The Floor – Bruno Mars
11. Esperanza Spalding – Earth to Heaven
12.  Winter Sublet – Sea Span
13.  Audio Pono – Feed Me Jack
14.  Your Best American Girl – Mitski
15.  Those Were the Days – Angel Olsen
16.  Suddenly – Drugdealer feat. Weyes Blood
17.  Lost Dreamers – Mutual Benefit
18.  In The Morning I’ll Be Better – Tennis
19.  Early to the Party – Andy Shauf
20.  Foxes Don’t Lie – Giorgio Tuma feat. Matilde Davoli




Dimas Ario's Favorite Local Songs of 2016 (disusun bukan berdasarkan peringkat terfavorit)

Side A

1.     No One Can Stop Us – Dipha Barus feat Kalula
2.     Hanya Engkau Yang Bisa – Armand Maulana
3.     A Night to Remember – Lala
4.     Penantian Berharga – Rizky Febian
5.     Ruang Sendiri – Tulus
6.     Tebar Pesona – Tompi feat Rayi
7.     If It’s For You – TheOvertunes
8.     Letting You Go – Raisa
9.     Pelangi – HiVi
10. Pura Pura – Bakhes
11. Misteri Tentang Rasa – Andira
12. Berkunjung ke Kotamu – The Rain
13. Brighter as One – Alexa
14. I Don’t Care – Randy Pandugo
15. Dunia Maya – Ari Lasso
16. Can’t Stop – RAN
17. Catatan Kecil – Adera
18. Dia Tak Cinta Kamu – Gloria Jessica
19. Kita – Calvin Jeremy
20. Sampai Nanti - Radhini



Side B

1. Crown of Roses – Duta Pamungkas
2. Rhymes of Adorer – Ray Magus
3. Given – Collapse
4. Rainy Days on the Sidewalk – Mondo Gascaro
5. Walking Back Home – Vira Talisa
6. Whispering (All the Colours) – Peonies
7. Bias – Markamerah
8. Kalapuna – Danilla
9. Temaram – Bin Idris
10. Gerimis – Wangi Gitaswara
11. Point of View – Shadowplay
12.  Ujian – Dialita
13.  Eastern Man – Oscar Lolang
14. Mala Renjana – Jims Adrian
15. Ingin Dekatmu – Indische Party
16. Merdeka – Efek Rumah Kaca
17. Hujan Kemarau – Mustacha and Beard






Rabu, 11 Mei 2016

Ada Apa Dengan Lagu Cinta dan Rangga?

Jadi kemarin sewaktu membuka YouTube, saya mendapat rekomendasi video ini:



Di tengah gegap gempita promosi AADC 2 oleh berbagai partner dan sponsor yang memenuhi semua penjuru media sosial, saya pikir video ini salah satu branded content yang berhasil. Diproduksi oleh media partner, Fimela Network, video ini menampilkan perbincangan antara Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo yang saling bertanya mengenai hal apapun yang menyangkut karakternya masing-masing, mulai dari dessert kesukaan Cinta hingga musik yang kira-kira didengar Rangga.

Pada perbincangan ini terungkap berbagai hal yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh Nicho dan Dian terhadap karakter masing-masing. Dari semua topik yang disinggung dalam video itu, saya tertarik pada pertanyaan terakhir: lagu-lagu seperti apa yang biasa didengarkan seorang Rangga? Jawabannya Nicho, Rangga yang seorang anti mainstream dan anti kemapanan, akan lebih mengapresiasi lagu-lagu yang memiliki keberpihakan terhadap isu-isu humanis, anti perang dsb yang banyak mewarnai lagu-lagu berbau politik di era 60an dan 70an. Saya langsung kebayang jelas lagu-lagu apa yang akan mengisi playlist Rangga ini.

Sementara bagaimana dengan lagu-lagu yang didengarkan Cinta? Dalam video tersebut tidak disebutkan. Dari deskripsi Dian di video terhadap sifat-sifat Cinta, antara lain gaul namun agak mainstream, Cinta yang peduli terhadap omongan dan pikiran orang terhadap dia, agak sulit untuk menerka selera musikal Cinta.
Rabu, 20 April 2016

Mengasuh Program Young Gres! di RURUradio


Mulai bulan lalu, saya bersama istri memulai siaran di RURUradio, sebuah radio kontemporer tanpa gelombang. Kami mengasuh program yang bertajuk Young Gres! Dari namanya mungkin sudah bisa tertebak. Acara ini khusus memutar lagu-lagu baru. Fokusnya untuk saat ini adalah lagu-lagu dari musisi atau band tanah air.

Banyak sekali bibit-bibit baru yang penuh talenta di luar sana namun seringkali luput dari radar. Bisa jadi karena bandnya memang tidak ada upaya untuk promosi atau media lokal tidak banyak yang melakukan pemanduan bakat.

Sekarang ini kegiatan menemukan musik baru mungkin lebih banyak dialami melalui bantuan mesin algoritma yang dimiliki platform music streaming. Biasanya memang akurat, sesuai dengan selera. Namun apa yang terjadi di Indonesia, banyak band baru yang kontennya belum tersedia di platform music streaming. Jadi untuk menemukan mereka, mau tidak mau harus 'manual'.

Jadi program radio seperti Young Gres! ini adalah salah satu cara manual yang dapat menjadi corong alternatif untuk mengenalkan musisi atau band yang belum banyak mendapat sorotan. Terutama untuk band yang belum terjamah mesin algoritma.

Secara spesifik, Young Gres! memutar lagu musisi atau band yang relatif anyar, lagu-lagu demo yang menurut kami potensial dan juga lagu-lagu dari band yang mungkin tidak begitu baru namun belum kencang bergaung.

Selama satu jam, kami memutar lagu dengan diselingi obrolan intim yang biasa saya dan istri lakukan menjelang tidur atau di tengah perjalanan. Jadi mohon maaf kalau obrolannya bisa merembet ke banyak hal dan terasa internal. :D
Selasa, 23 Februari 2016

Kebisingan Anyar dari Tanah Parahyangan


Banyak yang berpendapat bahwa Bandung kini tak lagi menghasilkan band-band baru. Ada juga yang berpendapat kancah musik Bandung sekarang ini tidak ada regenerasi. Pendapat kebanyakan orang itu mengacu pada sejarah manis yang telah digoreskan Bandung yang selalu sukses melahirkan band-band lokal yang dapat berbicara dalam skala nasional maupun internasional.

Namun jika ditelusuri lagi, Bandung dalam periode 10 tahun terakhir ini sebenarnya masih melahirkan gelombang-gelombang musik baru dengan deretan band-band segar yang menjadi penyemaraknya. Walau harus diakui memang sangat sedikit dari banyak band baru tersebut yang akhirnya dapat bergaung kencang di pentas nasional dan internasional. Karena itulah terbentuk asumsi bahwa kancah musik Bandung kini 'teu rame'.

Pada masa Themilo muncul pada awal 2000an, Bandung berangsur-angsur menjadi lautan dream pop dengan munculnya banyak band-band yang memiliki petikan melodi bernada manis yang dihasilkan oleh paduan efek reverb dan chorus gitar yang dibungkus oleh suara synth keyboard yang hangat. Musik-musik dari Themilo, Elemental Gaze, Ansaphone, Ravenina atau Jelly Belly memang cocok dinikmati dalam iklim Bandung yang di kala itu masih sejuk dengan irama kota yang berdenyut dalam gerak lambat.

Setelah gelombang dream pop dilanjutkan dengan gelombang post rock instrumentalia yang masih memiliki kekerabatan erat dengan gelombang sebelumnya. Band-band seperti Under the Bright Yellow Sun, Autumn Ode, Echolight menyajikan musik yang masih menampilkan paduan gitar reverb dan chorus namun kali ini dengan progresi yang lebih dinamis. Struktur lagu memiliki banyak kamar dengan pola yang kian memuncak mendekati akhir lagu. Pada era ini kehidupan Bandung tak lagi pelan dan santai. Udaranya juga kian panas dan setiap akhir pekan jalanan macet tak karuan. Membuat gerah para penghuninya.

Karena itu, ada sebagian anak muda Bandung yang mungkin lelah dengan keadaan kota lalu berusaha untuk menjauh dari pusat dan lebih dekat alam. Para biduan alam seperti Nada Fiksi, Teman Sebangku, Mr. Sonjaya, Deugalih & Folks, Rusa Militan dan teman-teman sejawatnya bercerita mengenai sungai, senja, ilalang, danau, bukit, hutan dan gunung. Inilah masa dimana gelombang musik folk melanda Bandung pada periode 2010-2013.

Sementara para penggiat folk mendekatkan diri ke alam ketika lelah dengan keadaan kota, sebagian lagi ada yang memilih untuk berkumpul di bar-bar kecil yang penuh dengan kepulan asap rokok kretek, rokok putih atau (jika barangnya tersedia) mariyuana. Atau bagi yang tidak suka menghirup asap cukup dengan meminum pilsener dingin. Inilah masa dimana gelombang Stoner Rock Bandung muncul yang diwakili oleh Sigmun, Lizzie, Kaitzr, The Slave, Vrosk dan para kerabatnya. Mereka memainkan distorsi dengan lambat, bertenaga, dalam dan berat yang seakan menjadi teriakan kekecewaan terhadap kota Bandung yang kian kacau.

Memasuki era Ridwan Kamil, Bandung menjadi gemar bersolek, trendi namun juga semakin riuh. Seiring dengan itu, ada letupan-letupan kebisingan dari gerombolan anak muda yang mulai jenuh dengan sekitarnya. Mereka menjadi generasi penerus dari apa yang telah dibangun oleh gelombang dream pop, shoegaze dan post rock para pendahulunya. Digawangi oleh tumpukan distori gitar yang kini sarat oleh raungan fuzz yang agresif seakan mengiringi ritme kota yang juga semakin cepat yang disebabkan oleh Bandung yang terus mempercantik diri.

Kini, mari kita sambut gerombolan kebisingan anyar dari tanah Parahyangan berikut ini: